Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2015

Aneh

Aneh rasanya saat kau menyukai seseorang, tapi dia tak menyukaimu
Adapun yang menyukaimu tak kau sukai

Lebih aneh lagi siklus 1 putaran percintaan
Seringkali terjadi seperti ini:
Tak kenal
Suka
Cinta
Jenuh
Pergi
Lupa
Tak kenal
Hanya 1 putaran saja, tak ada pengulangan

Kau tahu apa yang lebih aneh lagi?
Saat kau memantapkan hati untuk seseorang tuk selamanya
Namun beberapa saat kemudian, kemantapan itu hilang

Hmmmmm

Minggu, 06 Oktober 2013

Rindu Tak Bertuan

Meski lidah tak bertulang,
Ia masih bisa ucap kata..
Namun, rindu tak bertuan, dia bisa apa?

Telinga pun tak bertulang,
masih bisa ia mendengar,
Tapi, rindu tak bertuan, bisa apa?

Bagai malam yang takkan pernah bertemu siang,
rinduku takkan pernah menemuimu,
karena kau menjauh saat ia mendekatimu..

Seperti air dan minyak yang tak kunjung menyatu,
rinduku tak kunjung menghampirimu,
karena kau ciptakan batas yang tak terlampaui..

Lalu, aku bisa apa?
Biarkan rinduku terus tak bertuan?
Atau menyadarkanmu ada rasa yang diam-diam ingin dimilikimu?

Wahai Tuan dari rinduku..
Apa susahnya buka hatimu dan biarkan ia mengendap di dasarnya?


----------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 24 Maret 2012

Aku dan Sore Ini

Hujannya begitu deras, hingga aku tahu langit sedang memelas
Apa lagi yang kau tangisi, wahai langit tak berparas?
Bukankah kita sudah terlalu lama mengeras?
Hingga tak peduli lagi dengan asa yang tak terbalas

Petirnya sangat menakutkan, dan kusimpulkan awan sedang gemetaran
Kenapa kau tetap bertahan, wahai awan tak bertuan?
Bukankah kita sudah memutuskan untuk saling melupakan?
Maka tak ada lagi yang perlu diperjuangkan

Hawanya begitu menusuk, pertanda angin ingin merasuk
Apa yang kau lakukan, wahai angin yang merajuk?
Bukankah kau ingin aku membusuk?
Jadi pergilah sebelum aku mengamuk

Langit di sore ini..
Awan di sore ini..
Angin di sore ini..
Aku, di sore tak berujung
Yang hanya ingin dijunjung
Tapi berakhir di tiang pancung
Aku di sore tak berkasih
Tersenyum penuh dalih
Namun terus terima perih

Jumat, 20 Januari 2012

Mimpi yang Dinanti


kemarin malam aku bertemu sang putri.
dia memberiku bunga cantik abadi.
tapi satu hal baru kusadari.
semua terjadi dalam mimpi.

tiba-tiba sudah pagi.
dan aku sudah sadar diri.
kenapa aku terbangun lagi?
padahal aku tak ingin begini.

esoknya aku kembali bermimpi.
kali ini pangeran yang kucari.
namun sayang jalannya berduri.
aku hanya bisa memaki.

lagi-lagi ada mentari.
ahh ingin rasanya dia aku kebiri.
biar tak usah hadir lagi.
dan waktu terus malam hari.

kini sampai waktu yang kunanti.
aku terlelap berserah diri.
berharap aku akan bermimpi.
dan tak pernah bangun lagi.

Rabu, 23 November 2011

twilight and dawn


Inilah senjaku di lembar catatanmu,
Namun, inilah fajarku dalam sejarah hidup ini..
Aku boleh usang bersama ingatanmu,
Tapi aku kan bersinar lebih dan lebih terang sampai kau tak sanggup menatapku lagi..
Aku tak melarangmu untuk menghapus jejakku,
Tapi aku mengijinkanmu untuk terpesona bersama tepuk riuh para penonton yang mengagumiku, kelak..

Benar, inilah senjaku di lembar catatanmu,
Namun, inilah fajarku dalam sejarah hidup ini..

Senin, 10 Oktober 2011

Jauh


Kau begitu jauh sayang..
Aku yang terpenjara ruang hanya bisa menggenggam angin
Tak ubahnya anak kecil bermain layangan,
Tali engikat cinta kita yang kupegang,
Bukan wujud nyata dirimu
Kau kesana kemari,
Menjauh mendekat,
Argh! Kapan tubuhmu bisa kupeluk seutuhnya?

Kau begitu jauh sayang..
Jarak ini membuat rinduku semakin besar dan hampir tak terbendung
Kemana harus kusalurkan semuanya?
Aku takut hati ini pecah berkeping-keping
Perhatianmu, suaramu, cintamu, kasihmu, semuanya hanya menambah kerinduanku
Terkadang aku menderita sayang..
Apakah perasaan ini anugrah atau siksaan?

Kita begitu jauh sayang..
Kuatkan aku agar ruang ini tak membatasi cinta kita

Aku Benci Bulan Purnama


Aku senang malam datang
Gelapnya menyamarkan kelamku
Tapi tidak saat purnama
Semuanya tampak jelas
Begitupun bayang hitamku
Aku benci dia hadir
Aku benci cara dia tebar pesona
Padahal itu bukan cahayanya
Dia hanya meminjam, tapi begitu angkuh

Aku bahagia hujan turun
Derasnya menghanyutkan catatan kesedihanku
Tapi tidak saat purnama hadir
Dia mengusir semua awan mendung yang kusuka
Aku benci dia datang
Aku benci benderang semunya
Padahal dia hanya sosok sepi tak berkawan
Mengapa semua memujanya?

Purnama yang semu, aku benci kau!

Tak Lelah, Meski Lemah


Hari cerah..
Namun awan kelabu itu tak jua menyerah..
Dia hantarkan gerimis itu yang turun tak henti tak lelah, meski lemah..
Padahal matahari memerah..
Dan bunga-bunga indah hendak merekah..
Namun mengapa gerimis itu turun tak henti tak lelah, meski lemah?
Lihat! Lihat jemuran-jemuran basah!
Bayangkan sang pencuci yang lelah..
Berharap langit tetap cerah..
Cerah..
Tanpa gerimis yang turun tak henti tak lelah, meski lemah..
Namun tetap saja hanya harapan yang terhempas ranah ke tanah..
Gerimis turun tak henti tak lelah, meski lemah.

Aku tak marah..
Hanya sedikit gerah..
Dan juga lelah..
Sedikit gelisah..
Meratapi jemuran-jemuran basah..
Karena gerimis turun tak henti tak lelah, meski lemah..
Bukan! Bukan aku merasa susah..
Bukan juga terlalu resah..
Tapi sedikit berharap awan itu berganti arah..
Sudah..
Cukup berganti arah..
Agar gerimis yang turun tak lelah, meski lemah itu tak membuat jemuranku basah..



-Desember 2010-

Aku dan MEREKA


Aku, yang telah penat dengan semua kegaduhan yang kotak-kotak beroda itu perbuat, yang terlalu gundah dengan keluh yang terbentuk dari hela nafas mereka, yang tak sanggup menahan hawa panas yang tercipta oleh ego para perusak, mulai menyadari, aku bak mereka.

Aku, yang rajin menghadiahi para tuan penerima sampah dengan sisa yang masih berguna, yang terkadang tak peduli untuk menodai ikrar K3 yang usang terpampang tiap kelokan, yang sering pula mencemoh mereka yang tak mengerti arti untuk menempatkan segala sesuatu ditempatnya, kini menyadari, aku pun mereka.

Aku, yang tertawa melihat pasukan jingga bergoyang mengeruk ketidakpedulian para pengguna, yang bermasa bodoh dengan pundi-pundi harta berbau tengik yang tercecer mengindahkan kelamnya aspal jalanan, yang mengklaim ingin menyelamatkan kehidupan tapi dengan membasuh langit biru dengan kepulan gas yang tak layak hirup, dengan yakin, aku dan mereka, sama.

-Bogor, 29 Juni 2010-

Mencari Hujan


Ketika awan mulai menampakkan sisi gelapnya, aku bertanya, "akankah kau turunkan hujan?"
Awan menjawab.. "bukan aku yang menurunkan.. aku pun tidak menurunkan.. Sebenarnya akulah sang hujan yang belum mencair."

Dan hujan pun mulai turun, karena dia terlalu tinggi aku bertanya pada kaki-kaki hujan, "kenapa kau turun dan membasahi duniaku?"
Hujan pun menjawab heran.. "Duniamu? haha.. Jangan tanyakan padaku.. Aku hanyalah air yang terjatuh begitu saja.."

Aku mulai mencari sang air dan bertanya, "apa kau bapaknya hujan?"
"Hujan? aku adalah hujan.." Air menjawab sinis..

Dari kutub utara kudengar bisikan.. "Akulah es.. Yang meleleh menjadi air dan kelak menjadi hujan.."
Segera kuberlari.. Mendaki gunung tertinggi dan menemui puncak es.. "Kau ibunya hujan?"
"Kau bertanya tentang salju?" dia bertanya kebingungan..

Sejenak kuperhatikan tanah merah yang bersedia menampung hujan, aku pun bertanya, "Hai tuan, mengapa hujan memukulimu?"
Tanah berseru.. "Entahlah.. aku hanya kaum rendahan.. Tanyakan pada yang bertahta di atas sana.."

Aku memandang lagit.. Biru, tapi suram.. Biru, tapi mendung.. Biru, tapi tak bercahaya.. Aku bertanya, "Langit.. mengapa ada hujan? Langit.. Siapa induk hujan? Langit.. Apakah engkau sumber hujan?"
"pertanyaan bodoh! mengapa tak kau tanyakan pada hujan?" timbal sang langit.

Dengan lesu aku kembali mencari kaki kaki hujan yang telah berpindah ke selatan.. Angin yang tak tahu perasaanku terus meniupkan awan yang membawa hujan menjauh.. aku mengeluh.. "Angin.. tidak bisakah kau berhenti sejenak? Biarkan aku bertemu dengan hujan.."
"Tidak.. inilah tugasku.. Hanya dia yang bisa mengehentikanku.." angin menjawab

Lari.. Lari.. Lari dan berlari... Hujan mulai terlihat aku mulai lelah.. Hujan mulai terkejar aku sudah di penghujung batas.. Hujan mulai terasa aku diam, tak sanggup. Aku berteriak pada hujan.. "Hujan! Kau mengerjaiku?"
Sekilas hujan menoleh dan tersenyum. "Tidak.. sebenarnya, apa maumu?"
Aku sendiri tak tahu mengapa aku mencari hujan..
Aku sendiri tak mengerti mengapa ingin bersama hujan..
Aku sendiri tak paham mengapa bertanya tentang hujan..
Aku sendiri tak bisa menjawab apa yang hujan tanyakan..
Dan akhirnya aku hanya bisa membiarkan hujan berlalu..
Menjauh..
Mungkin saat kutemukan jawabannya, akan kucari sang hujan..
Tunggu aku!

3 in 1 (mata, dewa, dan aku)


Mata air haruslah mengalir dalam dahaga air mata

Matahari janganlah tenggelam ketika hari dan mata tak bersatu

Mata hati tetaplah memandang walau hati dan mata dalan buaian

Mata kaki bertahanlah saat kaki dan mata susah bertemu

Meskipun...

Mereka menjadi dewa
Aku terpuruk di neraka
Menatap nirvana
Kabita

Aku kehilangan tahtaku
Mereka memang terlalu
Diam pun tak membantu
Teu payu

Syalalala aku bernyanyi
Beriring duka, aku menari
Senandungkan lagu agar waktu kembali
Ka mimiti

Akhirnya...

Bersama rintik itu aku menilik semua titik yang begitu antik

Dibantu sang cahaya aku memperdaya setiap raya yang teraniaya

Diiring para dentuman aku mencari kedamaian di kedalaman hati relawan

Aku ini...


Aku ini sejatinya binatang
Tak teracuh meski hanya lirikan
Sesukanya berlalu tanpa permisi
Tercaplah aku tak bernilai

Aku ini benda buangan
Manisku habis sampahlah aku
Diam menunggu diraih bahagia
Rendah sekali aku di sini

Aku merangkak
Usahaku
Aku bermunajat
Do'aku

Cukup!
Aku tak lagi suka
Aku ini manusia
Sebongkah tubuh dan jiwa
Lengkap dengan rasa

Lihat aku!
Resapi maknaku tak beda denganmu
Hargai aku!
Karena diamku dulu penghargaan untukmu

Di sini aku
Aku nyata
Aku ada
Dan aku serta hadirku
Bukanlah debu kecil tak berarti
Aku bernilai

Sabtu, 02 Juli 2011

Kaku


Kita terpaku menatap sayu lembaran kayu yang tak layu
Kita diam membisu, bertingkah kaku, bahkan lidah pun kelu
Masing-masing dengan dunianya
Masing-masing mendalami perasaannya
Tak ada yang memulai, sekadar ucapkan dengan gemulai
Masing-masing memendam keluh kesahnya
Masing-masing menelan kesedihannya
Aku pun begitu, hanya menahan malu
Padahal banyak yang ingin aku sampaikan kawan
Terimakasih atas kebersamaan yang indah dan berkesan


Asrama TPB IPB/A2-263/Minggu, 19 Juni 2011